Kisah Seorang Pemuda dan Buah Apel Kisah Seorang Pemuda dan Buah Apel | blognya maz bram's
> > Kisah Seorang Pemuda dan Buah Apel

Kisah Seorang Pemuda dan Buah Apel

Posted on Thursday, February 28, 2013 | 26 Comments

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Alhamdulillah washolaatu wassalaamu 'ala Rasulillah wa'ala aalihi washahbihi wamanwalah.. Sobat blogger yang Insya Allah dirahmati Allah Subhanahu wa ta'ala, mungkin diantara sobat sekalian ada yang sudah pernah mendengar bahkan sudah sering mendengar kisah ini, namun tidak ada salahnya jika saya sajikan kembali kisah yang penuh hikmah ini agar kita senantiasa kembali ke jalan yang di ridhoi Allah Subhanahu wa ta'ala. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini. Berikut kisahnya..

Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.


Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?
Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”

Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.

Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”

Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”

Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.

Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?
Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”

Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa ta'ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa ta'ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa ta'ala.”

Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa ta'ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah.

Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.
Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.



sumber referensi :
http://asysyariah.com/kisah-seguci-emas.html

Related Post



Backlink here..

Comments:26

  1. walaikumsalam wr.wb

    insya allah... amiin ya rabbal alamin :)



    skrg saya mau komen artikelnya
    amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara.. emang jarang. mangkanya kata orang tua kita harus selalu ingat sang pencipta saja.. dan selalu bersyukur. insya ALLAH hikmah gitu aja sih

    keep keep :D .

    ReplyDelete
  2. Subhanallah... Indah nian i'tibar dari postingan ini..
    Makasih ya maz Brams, sudah berbagi...

    ReplyDelete
  3. kalo ga salah denger ceritanya dulu, ini ayah dari imam syafi'i ya mas, yang bener yang mana yah...

    ReplyDelete
  4. Ijin menyimak di sini sobat, sangat menarik :D

    ReplyDelete
  5. met pgi mas wah mantap,ni mas kisahnya trmksih'y mas dah berbagi. ane jga suka apel mas di kasih pun mau heheh

    ReplyDelete
  6. @ mas muro'i: Insya Allah seperti yang disebutkan diatas mas.. Wallohu a'lam
    @ sobat blogger semua: maaf saya blm bs bales komentar anda 1/1 krn tombol reply-nya masih error, siapa tau ada yang punya solusi??

    ReplyDelete
  7. Pernah mendengar cerita ini tapi hanya sekilas,namun sekarang lebih jelas dan tuntas,,terimakaish sob untuk artikel yang satu ini,,,,

    ReplyDelete
  8. Wow ...artikelnya menyentuh banget. Bisa sy jadikan motivasi dan rengan nih. Heheh

    Oh iya mas klw thread koment cari disini ajah : http://www.tipstrikblogging.com/ nanti spt blog saya hasilnya, sekaligus emoticonnya :D

    Ada yg lupa : link sudah nempel...ditunggu balik :)

    ReplyDelete
  9. nyimaka aja yah sob saya :)

    ReplyDelete
  10. Artikel yang Menarik..
    Penuh dengan makna....
    Thanks Gan atas artikel nya..

    ReplyDelete
  11. Tombol reply hilang atau tidak bisa di klik sob>

    ReplyDelete
  12. Selera saya tuh. Tapi apa sekarang ada yang kayak gitu ? :)

    ReplyDelete
  13. selalu ada hikmah dibalik cerita ini.... sosok pemuda yg menginspirasi

    ReplyDelete
  14. Semoga kita semua bisa memetik makna dari kisah diatas ya kan bang Bramz..salutttttttttttttt..hahahhayy

    ReplyDelete
  15. @mas sundO: tombol reply ada tapi nggak bisa diklik...

    ReplyDelete
  16. saya hadir mas walaupun telat..hehehe

    ReplyDelete
  17. Berkunjung di malam hari sambil mendoakan sang admin semoga selalu diberikan kesehatan. Syukron Yassarallah lanal khaira haitsuma kunna :)

    ReplyDelete
  18. Wah ngaji bareng ngeblog ni sangat bermanfaat moga aja berkah ya.

    ReplyDelete
  19. Berkunjung di sore hari, tetap semangat beraktifitas !!



    [ Gabung yuk ke Direktori Backlink Gratis Berkualitas No.1 Indonesia ]

    ReplyDelete
  20. .. subhanallah,, ucapannya sang cewek bener^ mancap jaya. tenkz ya?!? ..

    ReplyDelete
  21. Sejuk baca tulisan ini mas...penuh pesan dan makna untuk kehidipan sehari2...
    Trima ksh :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.